Skena musik kota Makassar kembali melahirkan unit yang tidak main-main. TAX datang menghantam kancah sebagai kolektif “punk enough” yang penuh daya ledak. Band ini menggandeng Fadlu di posisi vokal, Syam pada gitar, Ai di gitar, Ivan memegang bass, serta Pungs pada drum. Mereka teguh mempertahankan racikan hardcore/punk yang terasa mentah, kasar, dan abrasif. Eksplorasi musik mereka secara cerdas mengawinkan keliaran garage punk dengan kecepatan fast-core. Penyesuaian referensi serta selera tiap personel melahirkan formula sound yang pekat. Kendati demikian, TAX tetap menaruh fokus utama mereka pada penyampaian pesan tajam dan penyaluran energi secara langsung di atas panggung.
Skenario Psikologis dan Perjalanan Sosial
Materi lagu TAX merangkai perjalanan psikologis dan sosial yang begitu kelam. Trek pembuka berjudul “poor” membawa pendengar menyusuri lorong kehampaan pribadi yang dingin. Suasana kemudian bereskalasi menjadi badai keinginan dan krisis moral lewat tembang “burning tides”. Kemarahan tersebut akhirnya meledak penuh agresi terhadap bobroknya sistem dalam “collection of parasites”. Tidak berhenti di situ, pendengar kembali tersedot dan tenggelam ke dalam kekacauan batin pada nomor “owness”. Keseluruhan gelombang emosi ini lalu ditutup oleh trek intro outro yang terasa pas bertajuk “enough”.
Siklus Nihilisme Manusia Modern
Kelima lagu tersebut berhasil menyusun narasi yang utuh mengenai keputusasaan manusia modern. Lirik dan aransemen mereka merekam potret individu yang kehilangan arah makna di tengah gempuran zaman. Karakter dalam lagu-lagu ini berusaha keras melancarkan perlawanan, namun pada akhirnya mereka justru terjebak dalam pusaran kekacauan diri sendiri. Ini adalah sebuah potret nyata tentang siklus nihilisme dan perlawanan yang terus berulang tanpa henti. TAX membuktikan bahwa musik keras masih menjadi amunisi paling jujur untuk merespons realita yang makin kacau ini.
Dengarkan debut Ep “Dead Routine” dari TAX di Bandcamp.

